Si Loreng
pada jaman dahulu kala, ada sepasang suami istri yang hidup dengan tenteram dan bahagia di daerah tasikmalaya, jawa barat. mereka hidup serba berkecukupan. sang suami mencari nafkah dengan bertani, sedangkan sang istri berlaku selayaknya seorang ibu rumah tangga yang baik.
pada suatu hari, mereka berdua pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. di hutan, sang istri tiba-tiba melihat sesuatu yang bergerak-gerak di balik pepohonan. karena penasaran, akhirnya dia menghampiri pohon tersebut. betapa terkejutnya sang istri petani itu ketika dia melihat seekor anak harimau yang sedang mengibas-ngibaskan ekornya.
sang istri kemudian memanggil suaminya,” kang…kang…kemarilah lihat ada anak harimau disini.” kemudian sang suami datang menghampiri istrinya. mulanya mereka berduamerasa ketakutan dengan kehadiran si anak harimau . namun anak harimau itu menatap mereka dengan tatapan memelas. setelah diselidiki, ternyata anak harimau itu telah ditinggal mati oleh induknya. suami istri petani itu pun jatuh iba. akhirnya mereka memutuskan untuk memelihara si anak harimau tersebut. sang petani bertanya kepada istrinya, “kita beri nama apa harimau ini? bagaimana kalau kita beri nama si loreng?” tanya sang petani. sang istri pun mengangguk tanda setuju. anak harimau itu akhirnya diberi nama si loreng karena bulunya yang loreng-loreng berwarna hitam dan kuning keemasan.
si loreng dipelihara dengan baik oleh suami istri petani. mereka memperlakukan si loreng sudah seperti anggota keluarga sediri. semakin lama si loreng tumbuh semakin besar. dia menjadi seekor harimau yang gagah, pemberani, tangkas, dan selalu menurut pada perintah sepasang suami istri itu. suami istri petani itu pun semakin menyayangi si loreng. apalagi pasangan suami istri itu sudah lama sekali belum dikaruniai seorang anak, sehingga mereka mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada si loreng.
setelah bertahun-tahun menanti datangnya sang buah hati, istri petani itu akhirnya dikabarkan mengandung. kebahagiaan mereka bertambah ketika bayi mereka lahir. “tuhan ternyata amat sayang dengan kita ya kang?” seru istri petani. mereka dikaruniai seorang bayi laki-laki yang lucu dan menggemaskan. si loreng juga ikut gembira menyambutkelahiran sang bayi. tak henti-hentinya si loreng mengibas-ngibaskan ekornya yang berwarna loreng-loreng hitam dan kuning keemasan.
kini si loreng mempunyai tugas baru. dia ditugasi untuk menjaga sang bayi jika sepasang suami istri itu sedang pergi ke sawah. si loreng pun senantiasa menjaga keselamatan sang bayi. suami istri itu sangat bangga pada si loreng karena dia dapat memegang kepercayaan yang telah mereka berikan.
pada suatu hari, cuaca yang sangat panas, suami istri petani itu sedang beristirahat melepas lelah di sebuah saung. tiba-tiba mereka melihat si loreng berlari sangat kencang menghampiri mereka. mereka merasa heran melihat si loreng. karena biasanya dia tidak pernah menyusul ke sawah, apalagi meninggalkan bayi mereka sendirian di rumah.
“kang kenapa si loreng menyusul kemari ya? tidak biasanya dia bertingkah laku seperti itu.” tanya sang istri pada suaminya.
“entahlah nyai” jawab sang suami sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
ketika telah sampai di saung, si loreng mengibaskan ekornya berkali-kali sambil mengaum pelan. digosok-gosokkannya tubuhnya pada suami istri itu.
“ada apa loreng? mengapa kau menyusul kami kemari?” tanya sang istri sambil membelai-belai kepala si loreng. si loreng pun mendongakkan kepalanya. terkejutlah sang istri petani itu ketika melihat mulut si loreng berlumuran darah segar.
“kakang! lihat mulut si loreng berlumuran darah!” jerit sang istri dengan ketakutan.
sang suami pun sangat terkejut. dia langsung teringat akan bayi mungil yang ditinggalkannya bersama si loreng tadi pagi sebelum berangkat ke sawah. tiba-tiba kemarahannya pun langsung meluap.
“dasar hewan tak tahu diuntung! jangan-jangan kau telah memangsa anakku! betapa teganya kau!” teriak sang suami. petani tersebut langsung mencabut goloknya dan mengarahkannya pada leher si loreng.
si loreng sempat menggeleng-gelengkan kepalanya, namun sang suami sudah terlanjur sangat marah. dia menebaskan goloknya yang tajam pada leher si loreng sehingga harimau itu langsung mati seketika. setelah itu, suami istri petani langsung berlari ke rumah.
sesampainya di rumah, mereka mendapati putra mereka masih tertidur dengan pulas di dalam ayunannya. sang istri langsung berlari menghampiri dan memeluknya dengan penuh haru. kedua suami istri itu merasa sangat bersykur karena putranya selamat dan masih hidup.
ketika hendak menidurkan sang bayi kembali dalam ayunannya, mereka baru mengetahui kalau di bawah ayunan terdapat banyak ceceran darah yang masih segar. ternyata, tak jauh dari situ ada seekor bangkai ular yang sangat besar. tubuh ular itu tercabik-cabik seolah-olah diterkam oleh binatang buas seperti harimau.
“kang, kang… lihatlah kemari!” seru sang istri.
“ada apa nyai?” tanya sang suami.
“cepat kemari, ada bangkai ular yang besar sekali di bawah tempat tidur!” teriak sang istri.
mulanya sang petani belum percaya akan berita yang disampaikan sang istri. setelah petani melihat sendiri, ia sangat terkejut.
“hah…. bangkai ular?! seperti habis diterkam seekor harimau. jangan-jangan si loreng yang menerkamnya.”
“aduh ternyata akang telah salah membunuh si loreng.”
akhirnya mereka baru tersadar bahwa si loreng telah membunuh ular besar itu demi menyelamatkan putra mereka. tak dapat dikatakan betapa menyesalnya mereka, apalagi sang suami. dia sangat menyesal telah berprasangka buruk pada si loreng yang selama ini patuh pada perintahnya. dia juga menyesal telah mengambil keputusan dengan tergesa-gesa sehingga si loreng menjadi korban.
peristiwa terbunuhnya si loreng segera menjadi buah bibir di desa tempat suami istri petani itu tinggal. akhirnya desa itu diberi nama desa panyalahan karena suami istri itu pernah berprasangka buruk sehingga menyebabkan kematian makhluk yang tidak berdosa, atau dalam bahasa sunda berarti nyalahan.
untuk mengenang peristiwa tersebut, maka tempat tinggal suami istri itu diberi naam “penyalahan”. lama kelamaan penyalahan semakin banyak penduduknya sampai menjadi sebuah desa yang ramai.
menurut kepercayaan mereka yang berasal dari desa penyalahan, sampai sekarang senjata apapun tidak mempan untuk membunuh harimau. hal itu terjadi karena di desa penyalahan pernah terjadi peristiwa mengenaskan yaitu seekor harimau yang tidak bersalah dibunuh karena salah terka.